Rabu, 25 Desember 2013

Arogansi PNS Bagian Dikbudpora Kantor Gubernur Sumatera Selatan


Saya sebenarnya ingin menutup pengalaman yang terjadi pada hari Selasa, 24 Desember 2013 ini dalam-dalam, namun teringat sebuah kata bijak bahwa, negara ini bobrok bukan karena ulah penjahat-penjahatnya, tapi karena orang-orang pintarnya yang diam saja saat perbuatan tidak adil atau salah yang tidak diungkapkan kebenarannya.

Saya seorang dosen Ilmu Komunikasi di STISIPOL Candradimuka Palembang. Saya menyelesaikan S2 saya di Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada tahun 2012 lalu dengan mempertahankan tesis yang berjudul KULINER DAN KONSTRUKSI IDENTITAS KELOKALAN Studi Kasus Tentang Pempek Bagi “Wong Kito” di Kota Palembang. Dari awal pembuatan tesis, saya memang berkeinginan budaya Palembang lebih dikenal orang dari segi akademis. Akhirnya, saya berhasil mengubah tesis saya itu menjadi format buku referensi dengan judul Pempek Palembang: Kuliner & Konstruksi Identitas Kelokalan dengan jumlah 120 halaman. Sayangnya memang, kajian-kajian budaya seperti ini tidak mendapat tempat di penerbitan umum jika ingin dijadikan buku. Saya sudah mencoba memasukkan naskah ke Gramedia dan beberapa penerbitan lain tapi ditolak.

Oleh karena itu, saya berkeinginan untuk menerbitkannya melalui penerbitan indie yang pasti diterbitkan, dan kita sendiri beserta penerbit itu yang akan memasarkannya secara on-linemaupun off-line. Pembahasan budaya makan (kuliner) memang belum pernah ada. Umumnya, mereka menulis tentang resep masakan, tempat-tempat makan yang enak, dan sebagainya. Sedangkan di tulisan saya, saya mencoba untuk menganalisis tentang faktor keterikatan antara pempek dan wong Palembang itu sendiri sebagai salah satu karakter identitas mereka. Saya berkeyakinan, ini sangat penting bagi peradaban budaya Palembang – Sumatera Selatan itu sendiri. Tapi sayangnya masih banyak dari mereka yang tidak mengerti. Termasuk Bagian Dikbudpora yang bertugas di Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Prov. Sumsel.

Saya memasukkan surat permohonan bantuan dana untuk penerbitan & launching buku yang direncanakan bulan Maret 2014 itu pada tanggal 18 Desember 2013. Surat saya tujukan langsung untuk Bapak Gubernur Sumatera Selatan, Ir. H. Alex Noerdin, SH yang selama ini saya nilai selalu menjanjikan akan mendukung segala usaha masyarakat Sumatera Selatan yang berniat sama untuk mengangkat nama daerah ini. Saya kemudian datang kembali, kemarin, 24 Desember 2013 untuk mengkonfirmasi surat yang saya masukkan. Tapi apa dinyana, setelah menunggu lama, surat dengan no. urut: 2502 itu ternyata ditolak. Penjelasan yang absurd dari Bagian Dikbudpora itu sangat saya sesali, terlebih nada arogansi, seolah-olah saya seperti pengemis yang meminta uang di jalanan.

Saya yang kecewa dengan sikap mereka akhirnya berniat mengambil kembali naskah buku dan surat yang saya kirimkan. Keinginan saya yang ingin buku itu dibaca oleh orang nomor satu Sumatera Selatan tidak mungkin tercapai. Mengutip kata-kata bapak dan ibu di ruangan Dikbudpora itu, “Gak mungkin mbak, Pak Gubernur membaca ini!” Waaah, menyakitkan sekali. Akhirnya saya ambil naskah di dalam amplop coklat itu dan memasukkannya ke dalam paper bag yang saya bawa, “Ya sudah, Pak, kalau Pemprov Sumatera Selatan gak bisa bantu saya, saya ucapkan terima kasih, dan permisi pulang.”
(Scan Lembar Disposisi Surat Itu)

Tapi dari situ, si bapak malah tambah arogan sama saya. “Mbak, itu arsip kami. Mbak gak boleh mengambilnya kembali! Mbak harusnya sadar kita tidak pernah punya bantuan untuk penerbitan buku. Istri saya juga dosen, saya juga pernah mengurus perpustakaan,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk saya. Hm, apa itu barusan?? Sebelumnya, bilang saya mendadak mengajukan permohonan, lalu sekarang bilang memang tidak ada pos dana. Lalu, seolah memahami pentingnya publikasi naskah, malah dengan entengnya berujar, “Publikasikan saja pakai internet, Mbak, gak usah diterbitkan segala.” Saya hanya bisa menahan diri. Makin lama saya di ruangan ini, yang ada harga diri saya semakin diinjak-injak oleh mereka. Saya lalu kembali mengeluarkan naskah itu dari paper bag saya dan meletakkannya kembali di atas meja si ibu yang ada di ruangan itu. “Ini Pak, ambillah. Terima kasih atas bantuannya,” ujar saya lalu berlalu dari ruangan yang tatanannya kusam itu.

Di rumah, ternyata lembar disposisi atas surat saya tertinggal di paper bag saya. Dan Anda tahu, di sana tertulis, “Pelajari dan penuhi”. Jadi, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada saya? Wallahualam. Setiap perbuatan ada balasannya. Jika saya salah, saya mohon maaf. Namun jika saya benar, tulisan ini sebaiknya ditindaklanjuti untuk kebaikan kita semua. Terima kasih dan jayalah selalu untuk Sumatera Selatan.

Pengirim:
Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M.A
(sb.anita@gmail.com)
Dosen STISIPOL Candradimuka Palembang

Sumber : http://nitastory.blogspot.com/2013/12/arogansi-pns-bagian-dikbudpora-kantor.html

0 Komentar:

Posting Komentar